CIVICS EDUCATION

UIN SGD Bandung

Demo Karena Menuntut Hak ?

Oleh : Wilda Nur Laila Qodri

 

Kata “Demo” sepertinya sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Apalagi kita sebagai penduduk Indonesia yang mayoritas sangat sering melakukan aksi demo khususnya dikalangan mahasiswa. Ketika hak gaji buruh misalkan tidak sepadan dengan apa yang sudah dikerjakan maka demolah yang akan berbicara, ketika pemerintah tidak menunaikan kewajibannya demolah yang akan muncul di muka, ketika ada mentri yang menyelewengkan dana atau istilah kata lainnya bisa disebut dengan korupsi maka demo pula yang akan angkat suara begitulah seterusnya. Baca selebihnya »

Desember 11, 2007 Posted by | Warga Negara | Tinggalkan sebuah Komentar

Bandung Lautan api atau Bandung Lautan sampah?

Oleh : Susan Alfa Hasanah

 

Bandung lautan api? oh tidak, sekarang Bandung lautan sampah  lho! Jangan dipungkiri, setiap daerah di Bandung khususnya daerah-daerah terpencil, pasti mempunyai Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang umumnya kini sudah “nyambuang” ke area-area pemukiman warga. Sampah-sampah bak gunung yang menjulang tinggi ke langit biru, lho? Kan Bandung kota pegunungan! Ya, tepatnya pegunungan sampah. Baca selebihnya »

Desember 11, 2007 Posted by | Warga Negara | 1 Komentar

HAM

Oleh : Rifki Akbar 

Apa itu sebenarnya HAM di Indonesia? Mungkin pertanyaan itu tidak asing lagi bagi kita semua, bahwa HAM adalah hak azasi apresiasi kita untuk hidup. Tapi permasalahannya siapa yang menentukan HAM itu? Kita sendiri atau ada aturan yang dibuat oleh negara itu sendiri, karena HAM itu adalah menyangkut harkat dan martabat manusia itu sendiri. Memang karena kita hidup dalam negara dimana negara itulah yang membuat aturan tentang HAM itu sendiri, dimana menitipkan dirinya pada negaranya sendiri dan juga negara sebagai pemberi jalan solusi untuk masyarakatnya atau memberikan konsekuensi logis bagi masyarakat yang menyangkut harkat dan martabat manusia itu sendiri. Baca selebihnya »

Desember 11, 2007 Posted by | HAM | 4 Komentar

GLOBALISASI

Oleh : Rini Andrika

 

Suatu perubahan yang terjadi dalam skala besar yang dapat kita rasakan dan kita gunakan serta kita manfaatkan dalam kehidupan kita saat ini dan masa depan. Seperti dalam contoh teknologi yang sangat tinggi dan semakin berkembang dan maju. Yaitu teknologi tinggi semisal Hand Phone, komputer, televisi dan sebagainya yang sangat membantu dalam kehidupan kita sehari-hari. Dalam bidang ekonomi yang semakin menanjak sperti para investor, tidak perlu bertransaksi secara langsung, cukup hanya dengan melalui media seperti komputer, yang mempunyai jaringan akses internet secara online. Dengan kata lain, komputer sebagai fasilitas pembantu untuk usahanya, selain itu kita dapat mengakses informasi sebanyak dan seluas mungkin dari pihak luar. Namun adakalanya banyak oknum yang tidak bertanggung jawab dengan menyalah gunakan teknologi tersebut seperti di dalam teknik informatika yang di salah gunakan dengan menyebarkan vidio-vidio syur, atau dengan menyebarkan semacam virus komputer yang dapat merusak softwere. Baca selebihnya »

Desember 5, 2007 Posted by | Ideologi | 5 Komentar

ELPIJI ATAU MINYAK TANAH ???

Oleh : VIRA RAHAYU

 

            Mungkin untuk kalangan menengah keatas , gas elpiji  tidak terlau menjadi beban untuk bahan baker memasak sehari-hari , tetapi bagi seorang ibu rumah tangga yang penghasilan suaminya perhari hanya Rp.10.000 dan harus memprioritaskan mana yang lebih dibutuhkan , maka bagimereka cukup membeli minyak tanah  seharga  Rp.2500 perliter untuk sekali memasak , bahkan menurut mereka minyak setengah liter saja cukup untuk memasak di hawu (tungku api untuk memasak dalam bahasa sunda). Baca selebihnya »

Desember 5, 2007 Posted by | Warga Negara | Tinggalkan sebuah Komentar

KEBERHASILAN DAN TANTANGAN PONDOK MODEREN GONTOR DALAM MENCETAK KADER UMAT

Oleh : San San Syamsul  M

 

Pesantren Darussalam, yang lebih dikenal dengan sebutan pondok Gontor, karena  letaknya di Gontor, Ponorogo Jawa Timur telah memberi banyak kontribusi dan jasanya dalam membangun bangsa. Sebagai pesantren sekaligus lembaga strategis untuk kaderisasi sumber daya manusia (SDM), Gontor telah membuktikan kemampuannya dalam mewujudkan manusia yang saleh dengan dua model spesialisasi: ulama dalam bidang syariat dan ulama dalam bidang ilmu kauniah. Meski kadang harus menghadapi masalah-masalah psikologis dalam pondok, para santri juga para guru di Gontor tetap melaksanakan tugas-tugas kesehariannya penuh ceria. Sejak tahun pertama, para santri diberi arahan lewat pelajaran seperti mahfuzhat: ash shobru kash shobiri murrun fi madzaqotihi, lakin ‘awaqibuhu ahla minal ‘asali, (sabar itu ibarat minuman yang sangat pahit rasanya, tetapi dampak pengaruhnya lebih manis dari madu)”. Ketenteraman para santri dirasakan dengan segala agenda yang padat, program pesantren yang sarat dengan nilai-nilai edukasi, dan nuansa sosial yang membekas sampai saat mereka menjadi alumni. Ketenteraman saat menjadi alumni dirasakan dengan suasana keakraban dan kebersamaan, meskipun mereka berada di tempat yang berjauhan. Baca selebihnya »

Desember 5, 2007 Posted by | Negara | 16 Komentar

PENDIDIKAN PLURALISME BAGI ANAK ANAK

Oleh : Cahyadinata  

Tidak ada masa depan pluralisme jika anak-anak kita tidak diajarkan semgat toleransi dan solideritas. Pluralisme adalah tantangan bagi agama-agama, yang harus direspon dengan arif dan bijak. Toleransi dan solideritas tidak hanya dibangun di antara kelompok yang sama, melainkan di seliruh kelompok masyarakat, dalam kedudukan apa pun, dalam identitas apa pun, dan dimana pun. Pada semua manusia dan anak-anak, harus ditanamkan sikap toleransi antarumat beragama, sekaligus hidup beragama secara sungguh-sungguh. Masa kritis bagi pengembangan kognitif, mental, dan moral anak-anak, terjadi pada usia 6 sampai 12 tahun. Pada masa itu terjadi transisi kognitif, wawasan kian luas, anak mulai memahami persoalan yang lebih kompleks. Anak seharusnya mulai memahami apa yang dilihatnya dengan menggunakan logika, rasio, dan tidak lagi dengan fantasi, ilusi apalagi mistik. Sayangnya televiai di tanah air bukanlah lingkungan dan tontonan yang sehat untuk anak-anak masa kini.

Anak seharusnya mulai mampu dan menilai sesuatu dari sudut oandang yang berbeda. Tidak hanya terpusat pada diri sendiri. Oleh karenanya, masa masa ini sungguh momentum yang tepat untukmenanamkan nilai-nilai moral yang universal, seperti cinta kasih, perasaan kasihan, kejujuran empati, toleransi, keharmonisan, persaudaraan, kedamaian, pluralisme, demokrasi serta nilai-nilai moral agama yang ditanamkan oleh orangtua. Oleh karebna itu, perlu penanaman nilai moral terhadap anak-anak yang sedini myngkin. Nilai-nilai universal itu harus dimiliki oleh anak-anak Indonesia yang hidup di dalam pluralisme local maupun global.

Akan tetapi, proses penanaman nilai bukanlah perkara mudah. Banyak factor yang turut berperan dalam proses pembentukan nilai dalam diri seorang anak, mulai dari factor pendidikan di keluarga hingga pendidikan formal di sekolah. Dalam paradigma kini, pendidikan agama lebih ditekankan kepada moral improvement. Bila dalam paradigma lama, metode pengembangan mini agama lebih bersifat emosional dan sering kurang jujur melihat agama-agama lain, dalam paradigma baru yang prlu dikembangkan adalah metode kebijaksanaan, keteladanan, dan dialog. Oleh karena itu, pemaksaan, indoktrinasi, dan debat tidak mendapat tempat dalam paradigma baru ini.

Asumsi kita selama ini, penanaman dasar-dasar pendidikan agama sebagai kerangka pembentukan watak dan sikap kepribadian, telah dilaksanakan dengan intensif pada tingkat dasar, yang mungkin diteruskan pada tingkat menengah dan perguruan tinggi. Namun, di tingkat mana pun, sebaiknya pendidikan agama harus lebih berorientasi untuk menumbuhkan wawasan keagamaan dalam kaitan dengan religious intellectual building. Oleh karena itu, selain mungkin lebih cocok disajikan dalam kelas kelas seminar dan evaluasi melalui karya tulis, materi kuliah agama itu hendaknya bersifat perspektif. Misalnya, islam dalam perspektif kebudayaan, sejarah, sains, dan lain sebagainya. Dalam menumbuhkan religiositas anak tersebut, bentuk-bentuk kunjungan sosial, seperti ke rumah jompo, lokasi bencana alam, permukiman kumuh, pusat-pusat pengembangan teknologi kontemporer, tentunya juga bermanfaat. Ini adalah cara visual untuk “memberi pelajaran agama”, yang sekaligus dapat menghidupkan rasa kepekaan sosial, rasa mencintai sains, dan seterusnya.

Masalah pendidikan agama berkaitan dengan menanamkan nilai-nilai dan penanaman adab bagi generasi penerus, maka sudah waktunya sisitem pendidikan guru agama juga harus memandang aspek pandangan budaya. Kalaupun kal itu sudah ada, porsinya harus ditambah. Dengan demikian, pendidikan agama tidak sekedar proses belajar mengajar agama, apalagi dalam konsep schooling, tetapi lebih menrupakan proses inkulturasi dan akulturasi, yaitu proses memperadabkan generasi. Kehidupan beragama yang sangat rutin, bila tanpa keprihatinan yang melahirkan tanggung jawab, toleransi, dan solidaritas sosial, akan terasa hambar. Oleh karena itu, marilah kita kaum agama menjadi guru yang cerdas dan arif bagi anak-anak generasi global dan borderless world ini, menjadikan anak yakin dengan agamanya dan orang lain juga yakin terhadap agama mereka.

Wassalam…!!

Desember 5, 2007 Posted by | Warga Negara | Tinggalkan sebuah Komentar

Di Balik Nama Agung HAM Di Indonesia

Oleh: Faqih Shofiyah

 Indahnya alam Indonesia, membentang luas hamparan zamrud khatulistiwa. Masyarakat yang ramah, sopan santun adalah ciri khas masyarakat Indonesia.

 Itulah sepenggal ungkapan tentang indahnya pesona alam Indonesia . Bahkan di tahun 90-an, ungkapan seperti itu sering kita dengar sebagai sebuah jingle iklan sebuah produk makanan. Tak ada salahnya, kita sebagai warga Negara mengelu-elukan keindahan bangsa kita sendiri. Jiwa nasionalisme yang tinggi dengan sendirinya akan mendorong kita untuk menginterpretasikan kondisi Negara kita dalam sebuah ungkapan. Seperti halnya warga Negara yang memiliki jiwa nasionalisme yang tidak kalah tingginya, ada banyak hal yang dapat kita interpretasikan tentang Negara kita. Baca selebihnya »

Desember 5, 2007 Posted by | HAM | 2 Komentar

CALON PRESIDEN INDEPENDEN MENGAPA DI PERSULIT?

Oleh : Mualif

 
Meski pemilu 2009 masih agak lama, namun nuansa persaingan para calon presiden sudah menggema. Di samping SBY dan JK, Megawati juga disebut-sebut bakal ikut meramaikan bursa calaon pressiden. Ketiganya  diperkirakan mulus melaju sebagai calon presiden. Mulusnya SBY, JK  dan Megawati adalah suatu hal yang wajar mengingat ketiganya memiliki basis parpol yang jelas. Bagaimana dengan orang-orang yang tidak mempunyai kendaraan politik? Baca selebihnya »

Desember 4, 2007 Posted by | Negara | 8 Komentar

“DEMOKRASI SAMBAL TERASI”

Oleh : Fajar Burnama

 

            Di sebuah pagi, Si Kabayan mengobrol dengan Pak RT. Dalam obrolannya, mereka menceritakan tentang segala rupa masalah, mulai dari kehidupan di desa hingga kehidupan berbangsa dan bernegara. Pak RT bertanya, “Yan kenapa yanegara kita terus-menerus sakit?”Si Kabayan menjawab, “Ya salah kita sendiri, setiap hari makannya sambal terasi”,”Lho maksudnya?”Pak RT kebingungan.”Iya pak negara kita ini setiap hari makan sambal terasi terus jadi perutnya sakit terus”Si Kabayan menjelaskan, “Memangnya negara kita bisa makan sambal terasi?”Pak RT semakin bingung, “Bapak ini bagaimana kan negara kita memang negara sambal terasi (baca:demokrasi)” Tungkas Si Kabayan. Baca selebihnya »

Desember 4, 2007 Posted by | Demokrasi | 1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.