Bandung Lautan api atau Bandung Lautan sampah?
Oleh : Susan Alfa Hasanah
Bandung lautan api? oh tidak, sekarang Bandung lautan sampah lho! Jangan dipungkiri, setiap daerah di Bandung khususnya daerah-daerah terpencil, pasti mempunyai Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang umumnya kini sudah “nyambuang” ke area-area pemukiman warga. Sampah-sampah bak gunung yang menjulang tinggi ke langit biru, lho? Kan Bandung kota pegunungan! Ya, tepatnya pegunungan sampah.
Masih ingat logo Kota Bandung “berhiber” alias bersih, hijau, berbunga?. Tapi logo yang paling tepat untuk Bandung masa kini, yaitu “runturun” alias runtah, tumpuk deui ku runtah. Kini Citarum hanya sebuah catatan nama sungai saja dalam buku pengetahuan, sedangkan peran dan fungsinya sudah habis dimakan sampah. Citarum kini adalah sebuah “solokan gede” yang umumnya dangkal dan menyempit. Bahkan saya angkat, sebuah sungai terusan Citarum di Dayeuh kolot, Bandung, airnya kering dan penuh dengan tumpukan-tumpukan sampai anorganik seperti halnya plastik, kaleng dan sebagainya. Pantasnya dengan realita fenomena seperti hal diatas bukan di sebut sungai lagi, tapi TPS (Tempat Pembuangan Sampah).
Masalah sampah memang merupakan hal yang masih terbengkalai dan belum mendapat tindakan yang lebih lanjut dari pemerintah Kabupaten Bandung. Apalagi di pasar-pasar tradisional, umumnya masalah sampah adalah hal yang sepele dan dianggap tidak pernah berperan besar untuk kehidupan sehari-hari bahkan lebih parah jika dijadikan sebuah tradisi. Ini karena minimnya nilai kesadarn masyarakat itu sendiri. Contohnya, di Jalan Moch. Toha dekat gerbang tol, terdapat setumpukan sampah yang ”indah” dan mengkudeta sebagian jalan serta membuat selokan mampet, sehingga ketika banjir datang, tak ayal, airnya menjadi hitam dan berbau. Sungguh memang bersih dan nyaman sekali kediaman Bandung.
Lebih naas, masyarakat di daerah Batujajar,Bandung, kehilangan tempat tinggal karena lahannya dirampas sampah. Kini mereka terlunta-lunta, dan rumah mereka pun tak layak ditempati karena Gunung Sampah longsor.
Bandung memang tak dijajah bangsa lain, namun dijajah oleh hal yang diuat sendiri, yakni “bebengok runtah”. Di sebagian daerah, sampah menjadi komoditas usaha bagi sebahagian orang, baik bagi orang yang kreatif atau bahkan orang yang berada dibawah garis kemiskinan karena memang tak ada lagi lapangan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, alangkah indah dan mulianya jika masyarakat Bandung menjadikan mata pencahariannnya dari hal-hal yang bersih, tertata rapih, dan setidaknya bisa menghindari datangnya penyakit.
Sampah, momok yang mengerikan. Tapi jalan keluarnya ada pada diri kita sendiri. Sadar lingkunganlah, brow!. Katanya warga Negara yang baik itu harus menjalankan kewajibannya dan haknya?. Apalagi ini menyangkut lingkungan yang kita tinggali. Bukannya menuntut hak saja, mana dong kewajibanmu?. Lingkungan? Masa pohon-pohon saja pada tumbang. Mana lagi hal yang bisa mencegah banjir?. Ditambah jika kita kaitkan dengan global warming. Di Bandung lengkap sekali faktor-faktor yang bisa mengundangnya. Contoh saja, kulkas, alat elektronik yang sekarang termasuk bahan primer dalam rumah tangga, layaknya televisi. Padahal itu adalah hal kecil yang sewaktu-waktu bisa menjadi bom bagi lingkungan kita saat ini.
Pemerintah bandung, kapan masalah sampah ini ditanggulangi? Apa menunggu Bandung menjadi lautan sampah? Atau di bakar lagi supaya sampah mampus dan Bandung menjadi lautan api lagi?
Halo-halo Bandung. Ibu kota periangan. Sudah lama beta tidak berjumpa dengan kau. Sekarang telah menjadi lautan sampah. Mari bung tata kembali
1 Komentar »
Tinggalkan komentar
-
Arsip
- Desember 2007 (12)
- November 2007 (48)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS
Wah–wah Kang Uwes. Setuju…Bandung Lautan Sampah. Satu hal yang tak pernah dilakukan oleh pemerintah kota adalh mendorong proses kreatif masyarakat untuk mampu mengolah sampah yang dihasilkannya sendiri. Jangan disuruh dibakar Kang Uwes……. he he he…. Pendekatan yang dilakukan selalu Projek Oriented. Jadi untuk sampah saja harus membuat PLTSa. Dan itu juga dikelola swasta. Ujungnya selain membahayakan lingkungan karena Dioksin, retribusi nya pasti mahal.